Inspirasi Jurnal Pagi 30 Okt 2014

Kamis, 30 Oktober 2014, seperti biasa bel sekolah berbunyi pukul 07.00 wib menandakan anak-anak untuk segera masuk kelas. Seluruh siswa memasuki kelas kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Jurnal Pagi. Kegiatan ini diisi dengan menggambar dikertas yang telah disiapkan. Kegiatan ini memang kami lakukan setiap hari dipagi hari. Namun ada yang sedikit berbeda di Jurnal Pagi kali ini. Ketika saya memperhatikan hasil goresannya dikertas yang tergantung diseutas tali ternyata semua anak mengambar dengan objek yang sama. Anak-anak menggambar kue ulang tahun dengan berbagai corak warna dan bentuk namun tetap dalam satu tema yaitu kue ulang tahun. Kemudian ada salah satu anak yang menyampaikan bahwa “Pa guru, kami semua hari ini sengaja menggambar kue ulang tahun karena ada salah satu teman kami yang berulang tahun namanya Fazli. Kami ingin memberikan hadiah gambar ini untuk Fazli!”.

Ketika mendengar perkataan tersebut hati saya begitu bahagia karena ternyata anak-anak sudah mulai tumbuh empati dalam dirinya padahal mereka baru kelas 1 SD. Pengalaman ini juga menjadi renungan bagi kami orang dewasa. Kami secara tidak langsung belajar empati dari anak-anak ini. Anak-anak ini ikut merasakan kebahagiaan manakala ada salah satu temannya yang berbahagia dan ini sering kali berbeda dengan orang dewasa ketika ada saudaranya yang mendapat kebahagiaan muncul dalam hatinya rasa ketidaksukaan dan iri hati. Kami melihat anak-anak ini begitu tulus mengungkapkan perasaan senangnya ketika temannya mendapat kebahagiaan meskipun tiap hari diantara mereka ada saja gesekan atau pertengkaran layaknya anak kecil namun itu semua sirna ketika mereka bersama-sama merasakan kebahagiaan. Ketika terjadi pertengkaran dengan sesama mereka ajaibnya keesokan harinya mereka kembali akrab dan seolah-olah tak terjadi pertengkaran. Itulah keajaiban cinta anak-anak, mungkin yang sangat jauh dari orang dewasa ketika terjadi permusuhan atau pertengkaran mereka sangat susah untuk akur kembali bahkan sampai bertahun-tahun permusuhan dan pertengkaran itu tak kunjung damai.

Alangkah indahnya jika orang dewasa termasuk Kami para pendidik, pejabat, menteri, presiden, anggota dewan,buruh,pedagang dan semuanya yang merasa orang dewasa sepatutnya kita belajar sikap empati yang ditunjukkan anak-anak yang tulus dan tak dibuat-buat. Semoga terinspirasi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

Dialog antara anak dan ayah

Umat Muslim diseluruh dunia sebentar lagi akan merayakan hari raya Idul Adha yang biasa diperingati setiap tahunnya termasuk negeri kita yang tercinta Indonesia yang sebagian besar mayoritas penduduknya beragama Islam.

Ada salah satu kegiatan ibadah yang sangat isitimewa pada bulan dzulhijah ini yaitu ibadah Qurban. Dimana ibadah ini asal muasalnya terjadi ketika seorang ayah yaitu Nabi Ibrahin as akan menyembelih anaknya Ismail as. Namun sebelum Nabi Ibrahim as menyembelih anaknya Allah SWT berfirman agar Nabi Ibrahin as menggantinya dengan seekor Kambing.

Sebelum peristiwa itu terjadi banyak sekali rentetaan peristiwa yang di alami Nabi Ibrahin as dan keluarga. Pertama, Nabi Ibrahim as sudah bertahun-tahun berkeluarga namun belum diberikan keturunan. Setelah mendapat izin dari istrinya untuk menikah dengan wanita lain akhirnya Nabi Ibrahim as mendapatkan keturunan dengan lahirnya seorang anak yang diberi nama Ismail.

Kebahagiaan atas kelahiran putranya membuat Nabi Ibrahin sangat bahagia dan sangat menantikan kebersamaan dengan putranya tersebut.Namun tidak berselang lama Allah SWT memberikan ujian kepada Nabi Ibrahim as agar meninggalkan putra dan istrinya ditempat yang sangat tandus dan jauh dari keramaian. Maka mendengar perintah tersebut Nabi Ibrahimpun meninggalkan buah hatinya. Inilah cobaan yang cukup berat yang dialami Nabi Ibrahim as karena impiannya untuk mendapatkan seorang anak setelah berpuluh-puluh tahun menunggu namun setelah putranya lahir Nabi Ibrahim as harus meningalkan putranya tersebut. Dengan ketaatan dan ketabahan maka tanpa pikir panjang Nabi Ibrahimpun melaksanakan perintah Rabbnya.

Setelah berpuluh-puluh tahun Nabi Ibrahim as meninggalkan keluarganya akhirnya Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk kembali kepada keluarganya.Nabi Ibrahim pun sangat senang bisa kembali bersama keluarganya. Tak sampai disitu ujian kembali dihadapi Nabi Ibrahim as.Ujian ini termasuk ujian yang sangat berat yaitu Nabi Ibrahim as bermimpi mendapat perintah dari Allah SWT agar menyembelih putra tercintanya. Sebagai seorang ayah tentu tidak akan tega melakukannya. Akhirnya Nabi Ibrahim as memanggil putranya Ismail as kemudian menyampaikan mimpinya tersebut. Nabi Ibrahim as meminta pendapat dari putranya dan Ismail pun menyetujui perintah tersebut karena Ismail yakin mimpi tersebut betul-betul perintah dari Allah SWT.

Dari kisah di atas banyak pelajaran penting yang bisa kita petik. Namun ada peristiwa yang sangat menarik saya sebagai pendidik yaitu bagaimana dengan bijaknya seorang ayah sekaligus sebagai Nabi, Ibrahim as mengajak anaknya untuk berdiskusi tentang mimpinya bahkan Nabi Ibrahim as meminta pendapat anaknya. Disinilah peran seorang ayah bagaimana selalu melibatkan dan mendengarkan pendapat anak-anaknya dalam berbagai hal apalagi hal yang besar yang menyangkut sang anak. Dewasa ini tidak sedikit para orang tua yang memaksakan kehendak ayah atau ibunya untuk dituruti tanpa memperhatikan pendapat dan pandangan dari sang anak, maka jangan salahkan anak jika suatu saat nanti anak-anak seperti ini akan mengalami kemunduran baik mundur secara emosional maupun perilaku.

Pelajaran lainnya yang sangat hebat adalah bagaimana penanaman ketauhidan Nabi Ibrahim as kepada keluarganya sehingga masalah dan ujian apapun yang diterima dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Yakinlah jika anak-anak sudah tertanam dan menancap ketauhidan kepada Allah SWT maka anak-anak ini akan selamat di dunia dan diakhirat. Anak-anak ini akan menjadi penyejuk mata bagi para orang tua dimana ketika ditimpa masalah dan cobaan anak-anak ini akan mampu menjalaninya. Dan ini semua akan terwujud manakala Kepala keluarga dan istrinya juga sudah tertanam ketauhidan dalam hatinya. Wallahu’alam.