Sekolah Ramah Anak dan Rumah Ramah Anak : Bagian 2

Prinsip ketiga dalam mengimplementasikan Sekolah Ramah Anak yaitu “Kepentingan Terbaik Bagi Tumbuh Kembang Anak”. Pengelola sekolah menjamin hak tumbuh dan kembang anak yang diimplementasikan dalam berbagai aspek. Relasi sehari-hari antara guru/pengelola sekolah dengan peserta didik atau antar peserta didik mendukung terciptanya hubungan yang aman dan nyaman, melakukan tindakan proaktif dan perhatian secara personal.Begitu pun dengan sarana, aturan sekolah dan kurikulumnya mengakomodir semua kepentingan bagi tumbuh kembang anak.

Prinsip Keempat, yaitu “Menghargai Pendapat Anak”. Selama ini mungkin pengelola sekolah senantiasa melakukan atau membuat kebijakan sekolah atau aturan sekolah tanpa melibatkan peserta didik sehingga aturan yang sudah dibuat seringkali dilanggar karena hal ini seolah-olah aturan tersebut merupakan aturan Guru untuk siswa bukan aturan yang dibuat secara bersama-sama untuk kemudian disepakati semua warga sekolah. Dalam pembelajaran, sarana dan prasarana pun seharusnya pengelola sekolah tetap mempertimbangkan pendapat anak. Jika hal ini dilakukan maka siswa akan merasakan dirinya bagian dari sekolah sehingga tujuan pendidikan nasional akan tercapai secara optimal.

Didalam Undang-undang No.4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak, kutipan Bab 2 pasal 2 tentang hak anak disebutkan anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan, anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan. Dalam pasal di atas jelas peran orang tua sangat penting dalam hal ini. Peran orang tua dimasa sekarang nampaknya sudah mulai bergeser. Hak-hak anak sekarang sudah beralih ke pembantu rumah tangga. Anak-anak menjadi korban dari ketidakpedualiaan dan obsesi individu. Bisa dibayangkan jika pendidikan di rumah diambil alih oleh pembantu rumah tangga yang kita sendiri tidak tahu latar belakang pendidikannya, jadi wajar kalau akhir-akhir ini banyak kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh pembantu rumah tangga seperti yang terjadi pada salah satu anak di kota Bekasi waktu lalu.

Ketika prinsip-prinsip di atas tidak korelasi dengan peran orang tua di rumah maka sekuat tenaga apapun usaha yang dilakukan pengelola sekolah tidak akan maksimal begitu pun sebaliknya. Rumah Ramah Anak menjadi keharusan dalam mendiidk anak-anak dirumah karena peran orang tua atau keluarga sangat dominan dalam hal ini. Jadi dalam implementasinya Rumah Ramah Anak ini bisa menduplikasi prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak. Dan yang paling penting dari itu semua adalah bentuk KETELADANAN dari pengelola sekolah dan orang tua dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Sehebat apapun sistem dan aturan namun tanpa diawali dari Para Pendidik dan Orang Tua maka akan menjadi hal yang sia-sia. Pepatah mengatakan “Setajam-tajamnya pisau namun tidak pernah dipakai maka pisau tersebut akan berkarat dan tidak berguna”.

Penulis : Pendidik SDIT Mentari Ilmu

Iklan

SEKOLAH RAMAH ANAK DAN RUMAH RAMAH ANAK : BAGIAN 1

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita-berita ditelevisi yang menyiarkan tentang kekerasan anak disekolah baik kekerasan fisik, verbal maupun seksual yang dilakukan tidak hanya oleh antar peserta didik namun juga dilakukan oleh pendidik itu sendiri.Kejadian ini tentu saja tidak lepas dari peran sekolah dalam hal ini institusi yang bergerak dibidang pendidikan dan peran yang sangat penting yaitu peran Rumah dalam hal ini orang tua. Kedua peran ini memiliki peranan yang selaras seperti dua keping logam yang tidak bisa terpisahkan. Menurut data komisi perlindungan anak kasus kekerasan pada anak cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 di kawasan Jabodetabek mencapai 2.046 kasus. Laporan kekerasan pada anak tahun 2011 naik menjadi 2.462 kasus. Pada 2012 naik lagi menjadi 2.626 kasus dan pada 2013 melonjak menjadi 3.339 kasus. Pada tahun 2014 dari bulan Januari-April KPAI menerima laporan sebanyak 622 kasus. Undang-undang No.23 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak nampaknya tidak membuat para pelaku jera dimana di pasal 77 disebutkan pelaku tindakan kekerasan dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah). Menurut pandangan kami hukuman ini tidak sebanding dengan derita yang dialami korban karena dampak dari perbuatan ini akan menimbulkan “long high effect” dimana korban akan mengalami trauma psikis yang belum tentu bisa pulih dalam waktu dekat.

Kita sebagai pendidik yang berada diinstitusi pendidikan seharusnya sudah mulai menerapkan Sekolah Ramah Anak agar kejadian-kejadian di atas tidak terulang kembali minimal bisa dicegah. Ada 4 Prinsip Perlindungan Anak yang bisa diimplementasi di sekolah, Prinsip Pertama, Prinsip “Tanpa Kekerasan”. Dalam prinsip ini terintegrasi kesemua kegiatan, aturan, kebijakan, kurikulum dan sarana dipastikan tidak mengandung hal-hal yang berbau kekerasan sehingga interaksi antara guru/pengelola sekolah dan peserta maupun antar peserta didik tercipta suasana yang harmonis dan aman. Prinsip Kedua, Prinsip “Tanpa Diskriminasi”. Dalam prinsip ini menciptakan lingkungan yang nyaman, semua orang merasakan keterimaan dilingkungan sekitarnya tanpa membeda-bedakan antara peserta didik yang satu dengan peserta yang lainnya, semuanya mendapatkan pelayanan pendidikan yang sama. Pelayan yang sama dalam sarana prasarana, pembelajaran, aturan atau kebijakan yang tidak tebang pilih dan lain sebagainya. Bersambung……

Ubi Goreng Ala Chef Mentari Ilmu

Ketika istirahat tiba salah seorang guru begitu semangat membawa batu bata ke kebun pinggir sekolah. Anak-anak pun bertanya-tanya, kenapa pak Guru membawa batu bata ke kebun?Apakah akan membangun sesuatu atau apa?maka anak-anak pun berlarian menghampiri sang guru tersebut. Ternyata setelah beberapa susunan batu bata tersusun jadilah sebuah bangunan yang meyerupai tungku untuk memasak. Sang guru pun mengajak seluruh siswa untuk segera memasuki kelas karena jam masuk sudah berbunyi.

Didalam kelas guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari pada hari tersebut. Sang guru menyampaiakan bahwa seluruh siswa akan bekerja sama membuat kudapan sore yaitu Ubi Goreng. Anak-anak sangat bergembira mendengar hal tersebut, maka sang guru pun membentuk beberapa kelompok. Kelompok-kelompok tersebut diberi tugas yang berbeda-beda. Ada kelompok yang bertugas mencari kayu bakar, ada kelompok yang bertugas membersihkan Ubi dan ada juga kelompok yang bertugas mencari daun pisang untuk digunakan dalam kegiatan memasak tersebut. Seluruh siswa sangat antusias dengan tugas yang diembannya, penuh semangat, tanggung jawab, kerja sama dan rasa kekeluargaan terlihat dalam aktivitas tersebut. Setelah semuanya siap, Ubi pun digoreng di atas penggorengan. Hasilnya luar biasa Ubi goreng ala chef mentari ilmu rasanya maknyuss…lezatoss disantap bersama-sama.

Menumbuhkan Tanggung Jawab

Tepatnya hari Selasa 04 Oktober 2014 salah satu staf kebersihan kami tidak masuk karena izin ada keperluan keluarga. Pagi-pagi anak-anak sudah berkumpul di sekolah dan hal ini pun kami beritahukan kepada seluruh siswa. Setelah kami sampaikan informasi tersebut kemudian seluruh siswa langsung bergerak mengambil alat kebersihan, mulai dari pelan, sapu, tong sampah dan lain sebagainya. Mereka kelihatan begitu semangat dan ceria melakukannya. Niat dan kerja keras mereka patut diacungin jempol karena mereka begitu suka rela membersihkan kelas dan halaman sekolah, kerja sama dan kekompakan terlihat dalam setiap aktivitasnya. Meskipun diantara mereka mungkin ada yang pertama kali menggunakan alat pel lantai hal ini terlihat ketika salah satu siswa sedang mengepel lantai dengan gerakan maju kedepan sehingga lantai yang sudah dipel bukannya bersih namun makin menjadi kotor. Sang guru langsung menghampiri anak tersebut dan mencoba memberikan arahan dan bimbingan bagaimana cara mengepel yang seharusnya.

Kegiatan ini merupakan bentuk dari penanaman Tanggung Jawab. Bagaimana seluruh siswa memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga dan merawat kebersihan sehingga diharapkan ketika mereka dewasa kelak mereka sudah terbiasa dan mampu melakukannya sendiri dalam kesehariannya dan mereka akan memiliki rasa tanggung jawab dan peduli terhadap lingkungannya.