Monday Syndrome

Mungkin agak aneh mengambil judul dari kata-kata di atas. Judul ini kami tulis semata-mata karena pengamatan kami ketika proses pembelajaran disekolah terutama pada hari senin. Hari Senin merupakan awal hari anak-anak masuk sekolah setelah libur weekend. Biasanya dilapangan ketika hari Senin tiba guru-guru merasa was-was dengan kegiatan pembelajaran di hari tersebut. Pembelajaran dihari tersebut tidak biasa dan tidak biasanya seperti pada hari-hari yang lain. Guru-guru betul-betul harus menyiapkan mental dan kesabaran tingkat tinggi dalam menjalankannya. Karena pada hari Senin anak-anak mengalami tingkat responsif yang cukup tinggi dan cenderung meningkat emosi dan perilakunya. Biasanya di hari senin anak-anak tidak mudah untuk diarahkan sehingga kegiatan pembelajaran menjadi kurang kondusif, inilah yang kami sebut sebagai Monday Syndrome. Berbagai upaya terus kami lakukan untuk menghadapi situasi ini mulai dari meningkatkan metode pembelajaran, pendekatan personal dan lain sebagainya namun upaya kami belum sepenuhnya mencapai hasil yang optimal. Kami pun hanya meminta pertolongan kepada yang Maha Penolong untuk bisa menghadapi situasi ini dan diberikan kekuatan dan kesabaran dalam mendidik anak-anak kami.

Kejadian ini kami amati setidaknya bersama rekan guru yang lain, mengaanalisa secara bersama-sama persoalan yang selalu terjadi pada hari Senin. Kami pun mencoba mengekplorasi apa penyebab dari Monday Syndrome ini. Berdasarkan dugaan dan pengamatan kami simpulkan penyebab dari Monday Syndrome ini yaitu faktor eksternal. Faktor eksternal dapat berupa pengaruh lingkungan, perilaku teman sepermainan di rumah, pola didik orang tua bahkan tontonan televisi, apalagi anak-anak ketika hari libur tiba tontonan televisi merupakan agenda kegiatan yang tidak terlewatkan sehingga acara-acara televisi tanpa disadari telah meracuni pemikiran dan perilaku anak-anak.

Alangkah baiknya jika waktu libur tiba anak-anak mengisi kegiatan dengan hal-hal yang bermanfaat. Peran orang tua menjadi tonggak dalam menjaga anak-anak daripengaruh eksternal ini, begitupun peran sekolah juga mendorong kerjasama dengan orang tua untuk bersama-sama menciptakan situasi pembelajaran yang bernilai demi kemajuan generasi bangsa.

Iklan

Menanamkan sifat bersedekah melalui kegiatan menanam…..

Memasuki semester kedua ini kegiatan pembelajaran semakin bervariasi salah satunya kegiatan menanam jagung. Anak-anak sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran tersebut. Berbagai persiapan pun telah disiapkan dengan baik, mulai dari bahan, alat dan perlengkapan lainnya yang mendukung kegiatan tersebut. Kami tidak lupa setiap melakukan kegiatan pembelajaran selalu koordinasi terlebih dahulu dengan para guru. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui persiapan dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi diluar skenario yang telah direncanakan. Namun hal yang paling penting dalam koordinasi tersebut kami senantiasa memberikan motivasi dan arahan kepada guru-guru agar kegiatan pembelajaran yg akan disampaikan tidak sekedar memberikan pengetahuan namun lebih dari itu nilai-nilai agama harus menjadi prioritas dalam setiap pembelajaran. Salah satunya kegiatan menanam ini, kami sampaikan yg terpenting bukan bagaimana cara menanamnya namun bagaimana nilai-nilai kebaikan yang akan menjadi pembelajaran bagi anak-anak, misalnya menanam ini dikaitkan dengan nilai sedekah sebagaimana yang telah Rosulullah ajarkan kepada umatnya. Rosulullah SAW bersabda :

“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung memakannya atau manusia atau hewan, kecuali ia akan mendapatkan sedekah karenanya”. [HR. Al-Bukhori]

Seorang muslim yang menanam tanaman tak akan pernah rugi di sisi Allah SWT sebab tanaman tersebut akan dirasakan manfaatnya oleh manusia dan hewan, bahkan bumi yang kita tempati. Tanaman yang pernah kita tanam lalu diambil oleh siapa saja, baik dengan jalan yang halal, maupun jalan haram, maka kita sebagai penanam tetap mendapatkan pahala, sebab tanaman yang diambil tersebut berubah menjadi sedekah bagi kita.

Rosululloh SAW bersabda :

“Tak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya” . [HR. Muslim]

Inilah yang kami tekankan pada anak didik kami sehingga kegiatan menanam bukan sekedar menanam namun ada nilai kebaikan yang terpancar dan pelajaran berharga sehingga anak-anak Insya Alloh akan termotivasi untuk menanam tanaman dengan penuh kesadaran.

Nasehat Luqman Kepada Anaknya

Di zaman ini, di zaman serba canggih, anak-anak lebih dikenalkan pada teknologi. Namun kesadaran akan bagusnya akhlak dan budi pekerti masih sangat kurang. Padahal akhlak inilah yang seharusnya jadi perhatian. Cobalah kita ambil pelajaran dari nasehat Lukman pada anaknya, yang mengajarkan akhlak-akhlak yang luhur.

Nasehat pertama: Jauhilah syirik

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Lukman menasehati anaknya yang tentu amat ia sayangi, yaitu dengan nasehat yang amat mulia. Ia awali pertama kali dengan nasehat untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu apa pun.”

Dalam hadits Bukhari, dari Qutaibah, dari Jarir, dari Al A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqomah, dari ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau menyebutkan ayat,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman” (QS. Al An’am: 82).

Ketika disebutkan ayat ini, para sahabat pun menjadi khawatir. Mereka berkata,

أينا لم يَلْبس إيمانه بظلم؟

“(Wahai Rasul), siapakah yang tidak mencampurkan keimanannya dengan kesyirikan?”

Lantas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“إنه ليس بذاك، ألا (3) تسمع إلى قول لقمان: { يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ } .

“Itu bukanlah kezholiman seperti yang kalian sangkakan. Tidakkah kalian pernah mendengar nasehat Lukman pada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (HR. Bukhari no. 3360)

Nasehat kedua: Berbaktilah pada orang tua

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14).

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Lukman: 15).

Nasehat kedua ini banyak dilupakan oleh anak-anak saat ini. Banyak yang sering menyusahkan orang tua, membuat orang tua sedih dan menangis. Namun tentu saja ketaatan pada orang tua hanyalah dalam perkara kebaikan dan mubah. Jika mereka memaksa untuk berbuat syirik dan maksiat lainnya, tentu tidak boleh ditaati.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Jika kedua orang tua memaksamu agar mengikuti keyakinan keduanya, maka janganlah engkau terima. Namun hal ini tidaklah menghalangi engkau untuk berbuat baik kepada keduanya di dunia secara ma’ruf (dengan baik)” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 54).

Nasehat ketiga: Setiap dosa dan kejelekan akan dibalas oleh Allah

Nasehat ini mengajarkan agar setiap orang mengetahui bahaya jika berbuat dosa. Dan setiap muslim harus yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Mengetahui, serta Allah akan membalasnya. Lukman menasehati,

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS. Luqman: 16).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah wasiat yang amat berharga yang Allah ceritakan tentang Lukman Al Hakim supaya setiap orang bisa mencontohnya … Kezholiman dan dosa apa pun walau seberat biji sawi, pasti Allah akan mendatangkan balasannya pada hari kiamat ketika setiap amalan ditimbang. Jika amalan tersebut baik, maka balasan yang diperoleh pun baik. Jika jelek, maka balasan yang diperoleh pun jelek” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 55).

Nasehat keempat: Dirikanlah shalat, beramar ma’ruf nahi mungkar dan bersabar terhadap setiap cobaan

Allah Ta’ala berfirman,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Lukman: 17).

Ayat ini menerangkan mengenai urgensi shalat, pentingnya amar ma’ruf nahi mungkar dan perintah untuk bersabar terhadap gangguan atau musibah. Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan mengapa sampai tiga ibadah ini yang menjadi wasiat untuk anaknya. Yaitu karena tiga ibadah ini adalah induknya ibadah dan landasan seluruh kebaikan. Karena di akhir ayat ini disebutkan, Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah) (Lihat Fathul Qodir, 5: 489).

Nasehat kelima: Ajaran adab ketika berbicara

Akhlak mulia lainnya disebutkan dalam ayat selanjutnya,

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman: 18).

Ayat ini mengajarkan akhlak yang mulia yaitu bagaimana seorang muslim sebaiknya bersikap ketika berbicara, di manakah pandangan wajahnya. Dalam ayat ini diajarkan agar seorang muslim tidak bersikap sombong. Inilah yang dinasehatkan Lukman pada anaknya.

Nasehat keenam: Bersikap tawadhu’ (rendah diri)

Satu akhlak mulia lagi diajarkan oleh Lukman kepada anaknya ketika ia memberi wasiat padanya yaitu sikap tawadhu’ dan bagaimana beradab di hadapan manusia. Di antara yang dinasehatkan Lukman Al Hakim adalah mengenai adab berbicara, yaitu janganlah berbicara keras seperti keledai.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Lukman: 19).

Semoga nasehat berharga dari Lukman, seorang yang sholeh pada anaknya bermanfaat bagi orang tua dan anak. Hanya Allah yang memberi taufik. (Panggang, Gunungkidul, 8 Rabi’uts Tsani 1435 H)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id

Lowongan Guru

Sdit Mentari Ilmu membuka peluang untuk bergabung menjadi staf pengajar dengan kualifikasi sbb :

  1. Laki-laki/Wanita
  2. Minimal lulusan S1
  3. Bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar
  4. Pekerja keras, inovatif dan kreatif
  5. Menyayangi dan memperhatikan serta mengabdikan diri untuk perkembangan peserta didik

 

Fasilitas :

  • Gaji menarik
  • Tunjangan Keluarga
  • Tunjangan Hari Raya (THR)
  • Jenjang Karir
  • Pengembangan diri
  • Uang tranportasi
  • Dll

Silahkan kirim lamaran lengkap ke :

Sdit_mentariilmu@yahoo.co.id

Info : Whatsapp : 0888 1785 410

Tlp : 0856 2424 2352

Fun Cooking di Hari Pertama Masuk Sekolah….

Senin, 05 Januari 2015 adalah hari pertama masuk sekolah siswa sdit mentari ilmu di semester genap ini. Kegiatan kami awali seperti biasa dengan Jurnal Pagi. Seluruh siswa mengisi kegiatan tersebut dengan menggambar di atas kertas kalender tahun 2014 yang sudah tidak terpakai, hal ini akan membuat berbeda karena biasanya anak-anak mengambar di atas kertas HVS selain itu juga ukurannya yang cukup lebar akan menantang kreativitas dan imajinasi anak-anak. Tema yang dibuat digambar tersebut dikaitkan dengan tema liburan yang sudah mereka lewati kemudian setelah selesai menggambar sesuai tema, satu persatu anak-anak akan maju kedepan dan menceritakan gambar dan pengalaman liburannya yang mereka lalui.

Kegiatan pertama cukup sukses, anak-anak dilanjutkan dengan sholat dhuha, makan bersama dan bermain bebas. Kemudian bel berbunyi dering menandakan anak-anak untuk kembali masuk kelasnya. Pada jam ini anak-anak diajak kedapur untuk mengamati peralatan masak dan pembagian tugas memasak. Menu yang akan dibuat kali ini yaitu “Bubur Kacang Ijo Penuh Ceria”. Anak-anak mulai bekerja dibawah pengawasan guru, ada yang bertugas mengiris, gula merah, menyiapkan piring sendok, membersihkan kacang dan lain sebagainya.

Masakan yang ditunggu-tunggu akhirnya sudah siap disantap. Anak-anak berkumpul diteras kelas untuk mendapatkan bagiannya masing-masing untuk mencicipi masakan yang sudah dibuat bersama. Bubur kacangpun habis dilahap anak-anak, apalagi disuasana hujan saat ini sangat cocok untuk menghangatkan badan dan kandungan proteinnya sangat bagus untuk tumbuh kembang anak. Tidak berhenti sampai disitu, anak-anak secara bergantian mencuci piring dan sendok yang telah mereka gunakan dan membersihkan tempat dari sisa atau cipratan makanan yang tumpah ke lantai. Mengawali hari dengan penuh ceria dan kegembiraan mudah-mudahan anak-anak disemester genap ini siap untuk menimba ilmu dan pengalaman hidup.