Asyiknya Mini OutBond

Alhamdulillah tak terasa kegiatan pembelajaran semester satu sudah kita lewati. Kali ini kami sajikan kegiatan yang sedikit berbeda untuk seluruh siswa setelah berjuang dengan penuh semangat dalam mengikuti UAS. Kami pun mencoba menganalisa kebutuhana kegiatan seperti apa yanag dibutuhkan saat ini untuk melepas sedikit kepenatan. Dengan melihat potensi dan sumber daya yang ada maka kami pun mencoba menyajikan kegiatan Mini OutBond. dalama kegiatan ini kami menggali dan memunculkan potensi yang ada sehingga selain melatih motorik, keberanian, kerja sama, kegembiraan juga nilai-nilai karakter lainnya, pepatah mengatakan “satu dayung dua pulau terlampui”. Para instruktur dalam kegiatan ini tentu saja memberdayakan guru-guru yang ada dan menyesuaikan kondisi tata letak sekolah. Kami sulap halaman menjadi arena outbond dan tempat-tempat lainnya sekitar lingkungan sekolah sehingga inilah yang kami sebut “Mini Outbond”.Alhamdulillah respon anak-anak sangat antusias setelah mengikuti kegiatan tersebut dan bahkan hampir seluruh siswa meminta untuk diadakan kembali kegiatan tersebut.

DSCF2466 DSCF2494 DSCF2499 DSCF2511 DSCF2501

Iklan

Asyiknya Berenang….

DSCF1945 DSCF1947 DSCF1994 DSCF1998 DSCF2045 DSCF2057 DSCF2061Selama tiga hari berturut-turut anak-anak sdit mentari ilmu jatisari mengadakan kegiatan renang. Kegiatan ini memang agenda sekolah rutin setiap tahun mulai dari kelas 1 samapai kelas 2. Kegiatan ini bertujuan untuk menghidupkan sunnah Rosul dalam berolah raga dalam meningkatkan keterampilan anak dalam berenang yang tentu saja banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan ini. Selain mengasah keberanian, percaya diri, dan lain sebagainya. Anak-anak tampak bergembira sekali dalam mengikuti kegiatan ini. Semoga kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas diri anak-anak baik segi psikomotorik maupun mentalnya.

Yuk…Kenalkan Tahun Baru Hijriyah Pada Anak

DSCF1623 DSCF1630 DSCF1660 DSCF1671 DSCF1688 DSCF1730Beberapa jam lagi umat islam akan memasuki tahun baru islam atau tahun baru hijriyah. Tepatnya tanggal 1 muharram 1437 H. Beberapa waktu yang lalu kami sempat bertanya kepada anak-anak tentang tahun hijriyah tersebut dan sebagian besar anak-anak memang kurang familiar dengan tahun baru islam. Sangat berbeda sekali dengan kemeriahan tahun baru masehi. melihat kondisi tersebut kami mencoba memperkenalkan tahun baru islam ini dengan menyambut kemerihannya dengan kegiatan pawai ke sekitar lingkungan sekolah.

Kegiatan ini tentu saja bukan sekedar pawai namun jauh dari itu bagaimana anak-anak tahu dan paham dengan sejarah peristiwa hijrahnya Rosululloh SAW dari mekah ke madinah. Kegiatan ini juga salah satu syiar sekolah dalam memperkenalkan tahun hijriyah kepada masyarakat sekitar. Terlihat dari raut muka anak-anak tampak senang dan menikmati kegiatan tersebut. Dengan atribut bendera, poster, dll yang mereka siapkan masing-masing.

Semoga kegiatan ini memberikan pembelajaran kepada anak-anak terkait penanaman dan pengetauan wawasan keislaman. Dan yang paling penting adalah semoga kita semua dapat hijrah menuju kebaikan dan kedekatan kepada Alloh SWT yang lebih baik dari tahun yang lalu.Aamiiin.

BELAJAR DARI ANAK : “TIDAK PERNAH DENDAM”

artikel8-580x333Seperti biasanya pembelajaran di pagi hari khususnya siswa SD akan membuat kita para guru mengalami kerepotan dalam mengkondisikan perilaku anak-anak. Namun dari semua kerepotan itu tanpa kita sadari ada saja hal yang membuat kita para guru banyak belajar dari anak-anak.

Kejadian ini melibatkan dua siswa, sebut saja namanya Rasyi dan Zahra. Mereka hampir setiap hari mengalami keributan bahkan hanya gara-gara menurut kita sepele, misal rebutan tempat duduk, rebutan membaca duluan dan lain sebagainya. Kejadian yang cukup membuat heboh yaitu ketika mereka rebutan tempat duduk dan saling pukul sehingga mereka menangis kedua-duanya. Saya hanya berusaha melerai kejadian tersebut dan memberi waktu untuk mereka agar tenang. Setelah beberapa lama waktu berlalu kondisinya berubah seratus delapan puluh derajat, ternyata yang membuat saya tercengang adalah mereka kembali bersama, kembali melakukan kegiatan bersama hanya dalam beberapa waktu setelah kejadian yang sudah mereka alami bersama. Mereka kembali beraktifitas bersama-sama seolah-olah tidak terjadi kejadian apapun yang membuat mereka kecewa, marah dan rasa emosi lainnya. Ya…mereka kembali berdamai dan kembali tersenyum.

Nampaknya ini yang membuat saya terpukau dengan perilaku anak-anak. Dimana banyak orang dewasa yang bertengkar dengan temannya, atau dengan tetangga atau mungkin dengan keluarganya sehingga rasa marah dan dendam terus hinggap dalam diri mereka selama bertahun-tahun, bahkan ada yang mungkin bersumpah ‘tidak akan memaafkan kesalahannya sampai mati’. Sungguh saya sebagai pendidik merasa malu dengan diri sendiri dan anak-anak, ternyata mereka sangat mudah memaafkan dan tidak menyimpan dendam sedikitpun dalam hatinya.

Tak Perlu Sungkan Meminta Izin Pada Seorang Anak

Meminta izin pada orang tua atau teman sebaya mungkin sudah terbiasa kita lakukan. Namun pernahkah kita meminta izin pada seorang anak? Mungkin akan menjadi sedikit aneh karena kita terbiasa justru anak-anak yang selalu meminta izin kepada kita atau mungkin juga kita akan bertanya-tanya kenapa harus meminta izin pada seorang anak?

Sebagian Orang Tua biasanya ketika berinteraksi dengan anak-anaknya terkadang mengabaikan hak anak untuk mendapat perlakuan yang seharusnya. Misal ketika orang tua tanpa sepengetahuan anak memasukkan dalam program privat pelajaran atau kursus-kursus yang belum tentu anak tersebut menyukainya. Atau mungkin ketika seorang anak tiba-tiba harus masuk sekolah lanjutan pilihan orang tuanya. Bahkan mungkin ketika kita berangkat kerja atau tugas luar kota tanpa pamitan atau meminta izin terlebih dahulu kepada anak-anak kita.

Bagaimana mungkin kita akan berharap akan melahirkan anak-anak yang santun jika hal yang kita agap sepele tersebut tidak ditanamkan dan tidak dicontohkan oleh para orang tua. Maka jangan heran jika anak-anak saat ini sudah mulai terkikis nilai-nilai kesopanannya. Meminta izin pada seorang anak ternyata sudah dicontohkan oleh Rosululloh SAW beberapa abad yang lalu yang membawa manusia dari kegelapan menuju terang benderang dengan nilai-nilai Islam. Beliau adalah seorang manusia agung, pemimpin umat muslim namun beliau tidak sungkan untuk meminta izin pada seorang anak. Hal ini diriwayatkan dari Sahl bin as-Sa’idi bahwa suatu ketika Rosululloh SAW diberi minum untuk beliau minum. Sementara itu, di samping kanan beliau ada seorang anak kecil dan disamping kirinya ada para orang tua. Beliau lalu berkata kepada anak kecil tersebut, “ Apakah kau mengizinkan untuk memberikan minuman ini kepada mereka?” Anak itu berkata, “Demi Alloh, wahai Rosululloh! Aku tidak akan memberikan bagianku kecuali hanya untukmu!” (HR Bukhari).

Bukankah hadits tersebut sudah menjadi bukti yang cukup jelas bahwa Rosululloh sangat menghargai dan menghormati anak-anak. Lantas bagaimana dengan kita para orang tua atau pendidik sudahkah kita melakukan hal tersebut? Tak perlu sungkan untuk meminta izin pada seorang anak niscaya ketika kita mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari maka anak-anak akan selalu mengadopsi semua perilaku kita, mereka akan membiasakan dirinya berprilaku santun dan hormat dalam kehidupannya.

Siswa-Siswi SDIT Mentari Ilmu Menyabet Semua Piala Lomba Hafalan Al Qur’an

lomba hafalanAlhamdulillah siswa-siswi SDIT Mentari Ilmu berhasil menyabet semua piala juara 1, 2 dan 3 lomba hafalan tingkat SD kelas 1-2 se Kecamatan Jatisari dan Kota Baru yang di selenggarakan hari Ahad, 08 Februari 2015 bertempat di Mal Cikampek. Mentari Ilmu mengirimkan delegasinya sebanyak 5 siswa yaitu Ananda Sarah, Andinie, Haidar, Hamasah dan Nayla. Mereka adalah siswa-siswi kelas 1. Dalam mempersiapkan lomba tersebut kami melakukan pembinaan dan bimbingan intensif sekitar 5 hari. Selain membimbing dalam bacaan dan hafalannya, kami juga memberikan motivasi kepada semua peserta yang akan mengikuti lomba. Awalnya kami tidak memiliki target khusus untuk juara yang terpenting anak-anak berani tampil di depan umum, namun ternyata Alloh memberikan bonus kepada kami dengan memberikan juara pada lomba tersebut dan yang lebih membanggakan lagi semua juara 1, 2 dan 3 kami sabet semuanya. Terima kasih dan selamat anak-anakku yang sudah menunjukan kehebatannya dan bagi teman-teman yang belum juara InsyaAlloh belum waktunya dan InsyaAlloh masih ada kesempatan untuk belajar dan lebih giat lagi dalam menghafal Al Qur’annya.

Monday Syndrome

Mungkin agak aneh mengambil judul dari kata-kata di atas. Judul ini kami tulis semata-mata karena pengamatan kami ketika proses pembelajaran disekolah terutama pada hari senin. Hari Senin merupakan awal hari anak-anak masuk sekolah setelah libur weekend. Biasanya dilapangan ketika hari Senin tiba guru-guru merasa was-was dengan kegiatan pembelajaran di hari tersebut. Pembelajaran dihari tersebut tidak biasa dan tidak biasanya seperti pada hari-hari yang lain. Guru-guru betul-betul harus menyiapkan mental dan kesabaran tingkat tinggi dalam menjalankannya. Karena pada hari Senin anak-anak mengalami tingkat responsif yang cukup tinggi dan cenderung meningkat emosi dan perilakunya. Biasanya di hari senin anak-anak tidak mudah untuk diarahkan sehingga kegiatan pembelajaran menjadi kurang kondusif, inilah yang kami sebut sebagai Monday Syndrome. Berbagai upaya terus kami lakukan untuk menghadapi situasi ini mulai dari meningkatkan metode pembelajaran, pendekatan personal dan lain sebagainya namun upaya kami belum sepenuhnya mencapai hasil yang optimal. Kami pun hanya meminta pertolongan kepada yang Maha Penolong untuk bisa menghadapi situasi ini dan diberikan kekuatan dan kesabaran dalam mendidik anak-anak kami.

Kejadian ini kami amati setidaknya bersama rekan guru yang lain, mengaanalisa secara bersama-sama persoalan yang selalu terjadi pada hari Senin. Kami pun mencoba mengekplorasi apa penyebab dari Monday Syndrome ini. Berdasarkan dugaan dan pengamatan kami simpulkan penyebab dari Monday Syndrome ini yaitu faktor eksternal. Faktor eksternal dapat berupa pengaruh lingkungan, perilaku teman sepermainan di rumah, pola didik orang tua bahkan tontonan televisi, apalagi anak-anak ketika hari libur tiba tontonan televisi merupakan agenda kegiatan yang tidak terlewatkan sehingga acara-acara televisi tanpa disadari telah meracuni pemikiran dan perilaku anak-anak.

Alangkah baiknya jika waktu libur tiba anak-anak mengisi kegiatan dengan hal-hal yang bermanfaat. Peran orang tua menjadi tonggak dalam menjaga anak-anak daripengaruh eksternal ini, begitupun peran sekolah juga mendorong kerjasama dengan orang tua untuk bersama-sama menciptakan situasi pembelajaran yang bernilai demi kemajuan generasi bangsa.