BELAJAR DARI ANAK : “TIDAK PERNAH DENDAM”

artikel8-580x333Seperti biasanya pembelajaran di pagi hari khususnya siswa SD akan membuat kita para guru mengalami kerepotan dalam mengkondisikan perilaku anak-anak. Namun dari semua kerepotan itu tanpa kita sadari ada saja hal yang membuat kita para guru banyak belajar dari anak-anak.

Kejadian ini melibatkan dua siswa, sebut saja namanya Rasyi dan Zahra. Mereka hampir setiap hari mengalami keributan bahkan hanya gara-gara menurut kita sepele, misal rebutan tempat duduk, rebutan membaca duluan dan lain sebagainya. Kejadian yang cukup membuat heboh yaitu ketika mereka rebutan tempat duduk dan saling pukul sehingga mereka menangis kedua-duanya. Saya hanya berusaha melerai kejadian tersebut dan memberi waktu untuk mereka agar tenang. Setelah beberapa lama waktu berlalu kondisinya berubah seratus delapan puluh derajat, ternyata yang membuat saya tercengang adalah mereka kembali bersama, kembali melakukan kegiatan bersama hanya dalam beberapa waktu setelah kejadian yang sudah mereka alami bersama. Mereka kembali beraktifitas bersama-sama seolah-olah tidak terjadi kejadian apapun yang membuat mereka kecewa, marah dan rasa emosi lainnya. Ya…mereka kembali berdamai dan kembali tersenyum.

Nampaknya ini yang membuat saya terpukau dengan perilaku anak-anak. Dimana banyak orang dewasa yang bertengkar dengan temannya, atau dengan tetangga atau mungkin dengan keluarganya sehingga rasa marah dan dendam terus hinggap dalam diri mereka selama bertahun-tahun, bahkan ada yang mungkin bersumpah ‘tidak akan memaafkan kesalahannya sampai mati’. Sungguh saya sebagai pendidik merasa malu dengan diri sendiri dan anak-anak, ternyata mereka sangat mudah memaafkan dan tidak menyimpan dendam sedikitpun dalam hatinya.

Iklan

Tak Perlu Sungkan Meminta Izin Pada Seorang Anak

Meminta izin pada orang tua atau teman sebaya mungkin sudah terbiasa kita lakukan. Namun pernahkah kita meminta izin pada seorang anak? Mungkin akan menjadi sedikit aneh karena kita terbiasa justru anak-anak yang selalu meminta izin kepada kita atau mungkin juga kita akan bertanya-tanya kenapa harus meminta izin pada seorang anak?

Sebagian Orang Tua biasanya ketika berinteraksi dengan anak-anaknya terkadang mengabaikan hak anak untuk mendapat perlakuan yang seharusnya. Misal ketika orang tua tanpa sepengetahuan anak memasukkan dalam program privat pelajaran atau kursus-kursus yang belum tentu anak tersebut menyukainya. Atau mungkin ketika seorang anak tiba-tiba harus masuk sekolah lanjutan pilihan orang tuanya. Bahkan mungkin ketika kita berangkat kerja atau tugas luar kota tanpa pamitan atau meminta izin terlebih dahulu kepada anak-anak kita.

Bagaimana mungkin kita akan berharap akan melahirkan anak-anak yang santun jika hal yang kita agap sepele tersebut tidak ditanamkan dan tidak dicontohkan oleh para orang tua. Maka jangan heran jika anak-anak saat ini sudah mulai terkikis nilai-nilai kesopanannya. Meminta izin pada seorang anak ternyata sudah dicontohkan oleh Rosululloh SAW beberapa abad yang lalu yang membawa manusia dari kegelapan menuju terang benderang dengan nilai-nilai Islam. Beliau adalah seorang manusia agung, pemimpin umat muslim namun beliau tidak sungkan untuk meminta izin pada seorang anak. Hal ini diriwayatkan dari Sahl bin as-Sa’idi bahwa suatu ketika Rosululloh SAW diberi minum untuk beliau minum. Sementara itu, di samping kanan beliau ada seorang anak kecil dan disamping kirinya ada para orang tua. Beliau lalu berkata kepada anak kecil tersebut, “ Apakah kau mengizinkan untuk memberikan minuman ini kepada mereka?” Anak itu berkata, “Demi Alloh, wahai Rosululloh! Aku tidak akan memberikan bagianku kecuali hanya untukmu!” (HR Bukhari).

Bukankah hadits tersebut sudah menjadi bukti yang cukup jelas bahwa Rosululloh sangat menghargai dan menghormati anak-anak. Lantas bagaimana dengan kita para orang tua atau pendidik sudahkah kita melakukan hal tersebut? Tak perlu sungkan untuk meminta izin pada seorang anak niscaya ketika kita mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari maka anak-anak akan selalu mengadopsi semua perilaku kita, mereka akan membiasakan dirinya berprilaku santun dan hormat dalam kehidupannya.

Monday Syndrome

Mungkin agak aneh mengambil judul dari kata-kata di atas. Judul ini kami tulis semata-mata karena pengamatan kami ketika proses pembelajaran disekolah terutama pada hari senin. Hari Senin merupakan awal hari anak-anak masuk sekolah setelah libur weekend. Biasanya dilapangan ketika hari Senin tiba guru-guru merasa was-was dengan kegiatan pembelajaran di hari tersebut. Pembelajaran dihari tersebut tidak biasa dan tidak biasanya seperti pada hari-hari yang lain. Guru-guru betul-betul harus menyiapkan mental dan kesabaran tingkat tinggi dalam menjalankannya. Karena pada hari Senin anak-anak mengalami tingkat responsif yang cukup tinggi dan cenderung meningkat emosi dan perilakunya. Biasanya di hari senin anak-anak tidak mudah untuk diarahkan sehingga kegiatan pembelajaran menjadi kurang kondusif, inilah yang kami sebut sebagai Monday Syndrome. Berbagai upaya terus kami lakukan untuk menghadapi situasi ini mulai dari meningkatkan metode pembelajaran, pendekatan personal dan lain sebagainya namun upaya kami belum sepenuhnya mencapai hasil yang optimal. Kami pun hanya meminta pertolongan kepada yang Maha Penolong untuk bisa menghadapi situasi ini dan diberikan kekuatan dan kesabaran dalam mendidik anak-anak kami.

Kejadian ini kami amati setidaknya bersama rekan guru yang lain, mengaanalisa secara bersama-sama persoalan yang selalu terjadi pada hari Senin. Kami pun mencoba mengekplorasi apa penyebab dari Monday Syndrome ini. Berdasarkan dugaan dan pengamatan kami simpulkan penyebab dari Monday Syndrome ini yaitu faktor eksternal. Faktor eksternal dapat berupa pengaruh lingkungan, perilaku teman sepermainan di rumah, pola didik orang tua bahkan tontonan televisi, apalagi anak-anak ketika hari libur tiba tontonan televisi merupakan agenda kegiatan yang tidak terlewatkan sehingga acara-acara televisi tanpa disadari telah meracuni pemikiran dan perilaku anak-anak.

Alangkah baiknya jika waktu libur tiba anak-anak mengisi kegiatan dengan hal-hal yang bermanfaat. Peran orang tua menjadi tonggak dalam menjaga anak-anak daripengaruh eksternal ini, begitupun peran sekolah juga mendorong kerjasama dengan orang tua untuk bersama-sama menciptakan situasi pembelajaran yang bernilai demi kemajuan generasi bangsa.

Social Day : Membina Kepedulian Siswa

Kamis, 18 Desember 2014. Seluruh siswa dan guru-guru telah bersiap-siap untuk mendatangi salah satu rumah di belakang sekolah. Sebelum menuju rumah tersebut guru-guru memberikan arahan kepada anak-anak mengenai tujuan kegiatan dan adab-adab ketika bertamu. Rencananya memang kami akan mengadakan baksos dengan memberikan bingkisan kepada warga yang kurang mampu. Rencana ini telah kami rencanakan jauh-jauh hari dengan mengumpulkan infaq setiap hari jum’at. Kamipun berangkat menuju rumah dibelakang sekolah tersebut. Setibanya di sana kami bertemu dengan salah satu penghuni rumah seorang ibu dengan ditemani 3 orang anak sedang bermain di halaman rumahnya. Kami pun menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan rombongan. Bingkisan pun kami serahkan kepada ibu tersebut. Beranjak kerumah yang kedua. Rumah ini hanya dihuni oleh seorang nenek-nenek yang sedang duduk-duduk didepan rumahnya.Sekali lagi kami pun menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan rombongan dan akhirnya kami pun menyerahkan bingkisan tersebut. Terakhir bingkisan tersebut kami serahkan kepada supir angkot yang setiap hari antar jemput siswa tanpa lelah. Terima kasih anak-anak, kalian telah mengajarkan kepada kami tentang kepedulian, kalian telah mengorbankan sebagian uang sakunya untuk membantu sesama. Semoga amal ibadah kita diterima disisi Alloh swt dan membawa keberkahan. Aamiin.

IMG_20141218_102005 IMG_20141218_101756 IMG_20141218_105039

Manfaat Berenang Bagi Bayi

Secara ilmiah manfaat berenang pada anak usia dini baru-baru ini dibuktikan secara ilmiah. Tim peneliti dari Griffith Institute for Educational Research, Australia, menyatakan belajar berenang pada usia dini membuat anak meraih perkembangan lebih cepat pada area kognitif, fisik, dan bahasa.

Metode studi tentang manfaat berenang pada bayi tersebut, tim melakukan survei pada 7.000 orang tua yang mempunyai anak di bawah usia 5 tahun. Penelitian berlangsung lebih dari tiga tahun dengan partisipan berasal dari Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Peneliti memberi daftar perkembangan anak dan meminta para orang tua mengidentifikasi perkembangan anak mereka.

Menurut Robyn Jorgensen pemimpin studi penelitian terhadap bayi dan berenang ini, guru besar Universitas Griffith, sejumlah kemampuan anak-anak yang dilatih berenang sejak dini muncul lebih cepat dibanding anak-anak lainnya. “Banyak dari kemampuan-kemampuan itu yang membantu mereka menuju masa transisi dalam pembelajaran formal, seperti masa pra-sekolah dan masa sekolah,” kata Robyn, sebagaimana dilansir situs Medical News Today pada pertengahan November lalu.

Namun jauh sebelum penelitian ini terungkap sebenarnya perintah untuk mengajari anak-anak berenang sudah diperintahkan oleh Rosulullah SAW. Beliau bersabda : Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah”. Sungguh luar biasa perintah Rosulullah tersebut, baru di saat sekaranglah kita bisa mengetahui manfaatnya secara ilmu psikologi dan kesehatan yang dibuktikan secara ilmiah.

Tampaknya kita umat Islam satu langkah ketinggalan dengan orang-orang barat. Mereka benar-benar serius menerapkan dan melaksankannya dalam kesehariannya. Mereka yang memiliki bayi dimasukan program berenang bagi buah hatinya secara rutin. Karena mereka mengetahui manfaatnya. Kita sebagai umat Rosullullah yang jelas-jelas sudah mengetahui sabdanya tampaknya belum serius dengan kegiatan ini atau kita baru akan menjalankannya setelah ada bukti ilmiahnya? Yakinlah apa yang Rosulullah perintahkan kepada umatnya pasti akan membawa kebaikan.

Sekolah Ramah Anak dan Rumah Ramah Anak : Bagian 2

Prinsip ketiga dalam mengimplementasikan Sekolah Ramah Anak yaitu “Kepentingan Terbaik Bagi Tumbuh Kembang Anak”. Pengelola sekolah menjamin hak tumbuh dan kembang anak yang diimplementasikan dalam berbagai aspek. Relasi sehari-hari antara guru/pengelola sekolah dengan peserta didik atau antar peserta didik mendukung terciptanya hubungan yang aman dan nyaman, melakukan tindakan proaktif dan perhatian secara personal.Begitu pun dengan sarana, aturan sekolah dan kurikulumnya mengakomodir semua kepentingan bagi tumbuh kembang anak.

Prinsip Keempat, yaitu “Menghargai Pendapat Anak”. Selama ini mungkin pengelola sekolah senantiasa melakukan atau membuat kebijakan sekolah atau aturan sekolah tanpa melibatkan peserta didik sehingga aturan yang sudah dibuat seringkali dilanggar karena hal ini seolah-olah aturan tersebut merupakan aturan Guru untuk siswa bukan aturan yang dibuat secara bersama-sama untuk kemudian disepakati semua warga sekolah. Dalam pembelajaran, sarana dan prasarana pun seharusnya pengelola sekolah tetap mempertimbangkan pendapat anak. Jika hal ini dilakukan maka siswa akan merasakan dirinya bagian dari sekolah sehingga tujuan pendidikan nasional akan tercapai secara optimal.

Didalam Undang-undang No.4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan anak, kutipan Bab 2 pasal 2 tentang hak anak disebutkan anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan, anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan. Dalam pasal di atas jelas peran orang tua sangat penting dalam hal ini. Peran orang tua dimasa sekarang nampaknya sudah mulai bergeser. Hak-hak anak sekarang sudah beralih ke pembantu rumah tangga. Anak-anak menjadi korban dari ketidakpedualiaan dan obsesi individu. Bisa dibayangkan jika pendidikan di rumah diambil alih oleh pembantu rumah tangga yang kita sendiri tidak tahu latar belakang pendidikannya, jadi wajar kalau akhir-akhir ini banyak kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh pembantu rumah tangga seperti yang terjadi pada salah satu anak di kota Bekasi waktu lalu.

Ketika prinsip-prinsip di atas tidak korelasi dengan peran orang tua di rumah maka sekuat tenaga apapun usaha yang dilakukan pengelola sekolah tidak akan maksimal begitu pun sebaliknya. Rumah Ramah Anak menjadi keharusan dalam mendiidk anak-anak dirumah karena peran orang tua atau keluarga sangat dominan dalam hal ini. Jadi dalam implementasinya Rumah Ramah Anak ini bisa menduplikasi prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak. Dan yang paling penting dari itu semua adalah bentuk KETELADANAN dari pengelola sekolah dan orang tua dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Sehebat apapun sistem dan aturan namun tanpa diawali dari Para Pendidik dan Orang Tua maka akan menjadi hal yang sia-sia. Pepatah mengatakan “Setajam-tajamnya pisau namun tidak pernah dipakai maka pisau tersebut akan berkarat dan tidak berguna”.

Penulis : Pendidik SDIT Mentari Ilmu

SEKOLAH RAMAH ANAK DAN RUMAH RAMAH ANAK : BAGIAN 1

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita-berita ditelevisi yang menyiarkan tentang kekerasan anak disekolah baik kekerasan fisik, verbal maupun seksual yang dilakukan tidak hanya oleh antar peserta didik namun juga dilakukan oleh pendidik itu sendiri.Kejadian ini tentu saja tidak lepas dari peran sekolah dalam hal ini institusi yang bergerak dibidang pendidikan dan peran yang sangat penting yaitu peran Rumah dalam hal ini orang tua. Kedua peran ini memiliki peranan yang selaras seperti dua keping logam yang tidak bisa terpisahkan. Menurut data komisi perlindungan anak kasus kekerasan pada anak cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 di kawasan Jabodetabek mencapai 2.046 kasus. Laporan kekerasan pada anak tahun 2011 naik menjadi 2.462 kasus. Pada 2012 naik lagi menjadi 2.626 kasus dan pada 2013 melonjak menjadi 3.339 kasus. Pada tahun 2014 dari bulan Januari-April KPAI menerima laporan sebanyak 622 kasus. Undang-undang No.23 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak nampaknya tidak membuat para pelaku jera dimana di pasal 77 disebutkan pelaku tindakan kekerasan dipidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah). Menurut pandangan kami hukuman ini tidak sebanding dengan derita yang dialami korban karena dampak dari perbuatan ini akan menimbulkan “long high effect” dimana korban akan mengalami trauma psikis yang belum tentu bisa pulih dalam waktu dekat.

Kita sebagai pendidik yang berada diinstitusi pendidikan seharusnya sudah mulai menerapkan Sekolah Ramah Anak agar kejadian-kejadian di atas tidak terulang kembali minimal bisa dicegah. Ada 4 Prinsip Perlindungan Anak yang bisa diimplementasi di sekolah, Prinsip Pertama, Prinsip “Tanpa Kekerasan”. Dalam prinsip ini terintegrasi kesemua kegiatan, aturan, kebijakan, kurikulum dan sarana dipastikan tidak mengandung hal-hal yang berbau kekerasan sehingga interaksi antara guru/pengelola sekolah dan peserta maupun antar peserta didik tercipta suasana yang harmonis dan aman. Prinsip Kedua, Prinsip “Tanpa Diskriminasi”. Dalam prinsip ini menciptakan lingkungan yang nyaman, semua orang merasakan keterimaan dilingkungan sekitarnya tanpa membeda-bedakan antara peserta didik yang satu dengan peserta yang lainnya, semuanya mendapatkan pelayanan pendidikan yang sama. Pelayan yang sama dalam sarana prasarana, pembelajaran, aturan atau kebijakan yang tidak tebang pilih dan lain sebagainya. Bersambung……